Adab ‘Alim dan Muta’alim dalam Kitab Ayuhal Walad

Ada rumor yang menyebar dil kalangan teman-teman bahwa mahasiswa baru kedatangan 2020 dalam beberapa bulan kedepan akan tiba di Kairo untuk melanjutkan jenjang pendidikan strata satu (S1) di Universitas Al-Azhar. Seperti layaknya seorang kakak kepada adiknya, pasti akan memberikan gambaran kehidupan yang akan dihadapi serta masalah-masalah yang kiranya bakal terjadi dengan berbagai Ospek dari berbagai elemen. 

Setelah itu mencari informasi hari besar di bulan oktober, penulis mendapati (tepat hari ini) sebagai Hari Guru Internasional. Sekilas, penulis terinspirasi untuk sedikit mengulas kitab karya Imam Ghazali ini, karena penulis menganggap kitab memliliki kaitan dengan Hari Guru. Namun penulis tidak hanya membahas bagaimana adab Imam Ghazali terhadap muridnya (memberi nasihat), tetapi akan membahas adab keduanya (guru dan murid) dalam pembukaan kitab Ayuhal Walad ini.

Kitab Ayuhal Walad adalah salah satu karya yang sangat monumental yang dikarang oleh Imam Ghazali. Kitab yang ditulis di abad pertengahan ini masih tetap eksis sampai saat ini untuk dibaca dan dikaji .Kitab yang ditulis oleh beliau ini menjadi sebuah butiran nasihat hangat untuk para muridnya. Sehingga hampir diberbagai institusi pendidikan, banyak yang membahas kitab ini untuk membangun karakter pendidik dan peserta didik.

Latar belakang terciptanya buku ini hampir sama dengan latar belakang lahirnya kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi’I, walaupun berbeda objek pembahasan keduanya; Ar-Risalah (Ushul Fiqh), Ayuhal Walad (Adab), tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu sebuah surat guru untuk muridnya.  

Pada muqadimah kitab Ayuhal Walad  diceritakan bahwa dahulu kala ada seorang murid yang telah menghabiskan sebagian umurnya untuk bermulazamah serta berkhidmat kepada beliau dengan tekun dan sabar, sehingga sang murid telah menguasai secara mendalam semua karya Imam Ghazali; dan mengetahui berbagai rahasia ilmu yang terkandung didalamnya.

Namun suatu hari, ia merenung akan keadaan dirinya dan menghawatirkan akan perbuatan yang dilakukan akan menghalanginya dari mendapat ilmu yang bermanfaat. Seperti yang murid ini katakan:

Meski aku telah membaca bermacam-macam ilmu dan telah kucurahkan umurku untuk mempelajarinya, namun saat ini selayaknya aku mengetahui apa saja ilmu yang bermanfaat bagiku dan akan menjadi sinar bagiku dalam kuburku. Dan mana saja ilmu yang tidak bermanfaat bagiku sehingga aku akan meninggalkannya.” Sebagaimana sabda Nabi SAW. “Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Dengan keluasan ilmu yang dimiliki murid ini, justru tidak membuatnya tinggi hati dan melakukan berbagai tindakan yang sesuai dengan apa yang ia tahu. Ia lebih menginginkan nasihat sang guru untuk dijadikan tuntutan hidupnya, walaupun dari semua karangan Imam Ghazali telah mencangkup semua problematika yang dirasakan oleh sang murid.

Besitan hati seoarang murid ini mencerminkan bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu itu harus memprioritaskan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan juga untuk kehidupan setelahnya (akhirat) serta takut ketika waktu yang dikeluarkan oleh dirinya jauh dari kebermanfaatan dan ketaatan kepada Tuhan.

Bukan hanya bagi seorang yang telah menguasai berbagai disiplin ilmu yang  dilanda oleh perasaan bimbang dan khawatir ini, dalam fase awal menuntut ilmu juga seringkali seorang penuntut ilmu dihadapkan dengan berbagai problema hati. Dalam fase ini, ia akan terus bertanya akan apa yang seharusnya ia pelajari sebagai pijakan dasar. Sehingga tak jarang seorang penuntut ilmu akan tamak dan mengambil semua pengetahuan yang berada didepannya; walaupun tidak sesuai porsinya. 

Sudah seharusnya dalam kebimbangan hati yang mendalam ini, seorang penuntut ilmu menanyakan perihal masalah ini kepada seseorang yang benar-benar mengenal diri dan jiwanya. Seorang mursyid (pemberi petunjuk arah) yang tak lain adalah seorang  guru yang memiliki pengetahuan mendalam akan kebutuhan asupan ilmu yang perlu seorang murid cari. Hal inilah yang dilakukan murid Imam Ghazali yang mengalami kebimbangan hati yang melandanya. Lekas ia kirimkan surat kepada gurunya untuk meminta nasihat,

Meskipun kitab karangan guruku, seperti Ihya Ulumuddin dan yang lainnya telah mencangkup semua jawaban dari permasalah dan pertanyaanku. Namun aku masih menginginkan agar guruku, Imam Ghazali, menuliskannya pada lembaran-lembaran kertas agar bisa selalu bersamaku sepanjang hidup dan insyaallah akan aku amalkan sepanjang hidupku.” Beginilah surat yang dikirimkan seorang murid kepada Imam Ghazali.

Kemudian Imam Ghazali menjawab surat muridnya dengan mengirmkan surat,

Wahai Anakku! Semoga Allah memanjangkan umurmu untuk menjadi orang yang taat dan menjadikanmu orang yang mengikuti prilaku kekasihNya. Sesungguhnya penjelasan nasihatku berasal dari sumber kenabian (Qur’an dan Hadits). Oleh karena itu apaila telah sampai kepadamu suatu nasihat yang berasal dari sumber ini, maka apa perlunya lagi engkau kepada nasihat saya. Dan apabila masih belum sampai kepadamu nasihat dari sumber ini, maka sebenarnya ilmu-ilmu apa yang telah engkau pelajari selama ini?”


Untuk menjawab pertanyaan sang murid, Imam Ghazali terlebih dahulu menyapa dengan lembut dengan menyebut “walad”, sebagai sapaan akrab dan penuh kasih sayang. Sapaan ini adalah sebuah manifestasi dari ikatan batin yang tercipta ntara guru dan murid. 

Bukan hanya sebuah ikatan, seruan lembut yang dilontarkan Imam Ghazali mengambil prinsip untuk meyeru/dakwah dalam Islam, “serulah manusia ke jalan Allah dengan Hikmah, dan Mauidzah Hasanah.” Beliau menerapan prinsip ini dalam memberikan wejangan kepada muridnya dengan penuh hikmah. Maka hendaklah sebuah nasihat itu diberikan kepada tuannya (seorang yang butuh nasihat) dengan penuh hikmah, agar nasihat itu dapat menyentuk ke relung hati sang tuan.

Setelah sapaan lembut untuk muridnya, beliau mengawali surat yang dikirimkan, dengan mendoakan muridnya sebuah kebaikan agar diberikan umur yang panjang untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada penciptaNya dan menjadikannya seseorang yang mengikuti prilaku kekasihNya (Rasulullah Saw).

Doa yang dipanjatkan Imam Ghazali kepada muridnya ini mengisyaratkan kepada seorang guru/pendidik untuk selalu mendoakan muridnya kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini yang kadang sering terlupakan dari realita saat ini, seakan ikatan guru dengan seorang murid hanya sebatas kontak fisik dalam ruang kelas tanpa memperhatikan ikatan batin. Sehingga mengganggap tugas seorang guru hanya memindahkan berbagai pengetahuan tertulis dalam seuah buku ke kepala murid.

Lalu dengan segala kerendahan hatinya, beliau tidak menisbatkan nasihat yang diberikan kepada muridnya sebagai nasihatnya. Beliau menisbatkan semua nasihat yang diberikan sebagai Kalamullah dan sabda Nabi, sehingga cukup nasihat dari keduanya sebagai sebaik-baiknya nasihat. Dengan keluasan ilmu yang dimilikinya justru membuatnya menjadi rendah hati.

Dengan kerendah hati, beliau mengawali nasihat  kepada muridnya dengan, “sebagian nasihat yang diberikan Rasulullah Saw kepada umatnya,”

Salah satu tanda berpalingnya Allah dari hambaNya tatkala seorang hamba disibukan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan sekiranya ada suatu waktu dari umurnya yang ia gunakan untuk melakukan hal selain tujuannya (beribadah kepada Allah) maka sangat amat panjang kesengsaraannya di akhirat nanti. Dan barang siapa yang mencapaiumur 40 tahun tetapi kebaikannya belum melampaui keburukannya, maka seakan ia telah menyiapkan dirinya untuk masuk Neraka.

Di awal nasihatnya, Imam Ghazali mengingatkan tentang keutamaan waktu, dengan memberi wejangan akan konsekuensi seorang hamba yang menyia-nyiakan waktunya dengan melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.  Beliau juga mengingatkan agar waktu yang dihabiskan harus sesuai dengan jalur tujuan penciptaan, agar tidak jatuh ke dalam kesengsaraan di akhirat. Inilah wejangan yang diberikan untuk penuntut ilmu.

Sedikit dari apa yang dipahami oleh penulis, dalam pembukaan kitab ini memberikan gambaran bagaimana Imam Ghazali menjadi teladan bagi seorang guru. Beliau mengisyaratkan bagaimana seorang guru harus bersikap rendah hati dihadapan muridnya. Beliaupun memberi suri tauladan bagaimana seharusnya seorang guru memberi nasihat untuk muridnya.

Murid Imam Ghazali inipun menjadi teladan, bagaimana seorang murid itu harus tetap merasa kosong dihadapan gurunya untuk menjauhi kesombongan. Sikap ini termanifestasi dari kerendahatian sang murid dalam meminta wejangan sang guru, walaupun telah menguasai berbagai disiplin ilmu yang diajarkan oleh guru.

Terakhir, ini sebatas ulasan singkat dari kitab Ayuhal Walad ini. Dalam lembaran-lembaran selanjutnya masih tersimpan berbagai nasihat untuk seorang guru dan murid (walaupun secara khusus, buku ini tercipta untuk sang murid). Kitab ini ditulis dengan ringkas namun penuh dengan hikmah sehingga bisa dipahami dan diamalkan untuk seorang penuntut ilmu. Wallahu ‘alam


Komentar